Dokter Anakku

WASPADA PEMBESARAN PERUT ANAK

MENGENAL NEUROBLASTOMA
Belum diketahui pasti penyebab munculnya kanker ini, namun jika diketahui sejak dini, kemungkinan untuk sembuh dari neuroblastoma pun lebih besar.

Kita tentu masih ingat dengan alm. Ashira Shalva Riko (2,4) yang belum lama berpulang setelah berjuang melawan neuroblastoma yang dideritanya.

Neuroblastoma adalah salah satu jenis kanker yang umum diderita pada masa kanak-kanak dan mewakili 7%-10% keganasan anak. Sekitar 75 persen kanker ini diderita oleh anak di bawah usia 5 tahun. Meski demikian, neuroblastoma masih dikatakan sebagai penyakit langka karena belum banyak masyarakat yang mengetahuinya.

Rata-rata terdapat 8 kasus baru per tahun pada anak di bawah usia 16 tahun dengan usia tersering sekitar 2 tahun. Sebanyak 37% kasus neuroblastoma terdiagnosis pada usia Neuroblastoma merupakan tumor yang sangat ganas. Setengah dari penderita biasanya datang ke dokter untuk pertama kali berobat, saat kanker sudah menyebar ke bagian tubuh lain atau berada pada tahap akhir penyakit.

WASPADAI PEMBESARAN PERUT
Kanker pada anak memang tidak dapat dicegah karena faktor risiko dan penyebabnya pun belum diketahui. Namun, jika ditemukan sejak dini, peluang kesembuhan kanker pada anak cukup besar. Di Amerika Serikat, angka kelangsungan hidup sampai 5 tahun untuk neuroblastoma mencapai 87 persen pada anak berusia kurang dari setahun. Untuk itu kita perlu mencermati gejalanya.

Gejala dan tanda neuroblastoma bervariasi, tergantung pada bagian tubuh yang terpengaruh. Neuroblastoma di perut adalah bentuk yang paling umum, sehingga pembesaran perut merupakan gejala awal yang harus diwaspadai pada setiap anak akan adanya suatu tumor padat ganas. Benjolan perut dapat disertai juga dengan nyeri perut serta menurunnya nafsu makan, penurunan berat badan, dan muntah.

Menurut sang ayah, Wahyu Fathir Riko Yoi (30), kepada KOMPAS.com (16/11/2014), beberapa minggu sebelum didiagnosis neuroblastoma, Ashira sudah menunjukkan gejala penyakit ini. Selain gampang sakit dan tidak mau makan, Ashira juga mengeluh perutnya sakit. Saat disentuh, perutnya terasa agak keras dan tampak membesar. Setelah diperiksakan ke rumah sakit, barulah diketahui Ashira menderita neuroblastoma.

PENEGAKAN DIAGNOSIS
Usia dapat memberikan petunjuk diagnosis yang penting terhadap jenis tumor rongga perut anak. Pada bayi dibawah usia 1 bulan, umumnya tumor berasal dari ginjal, yaitu tumor Wilm’s atau neuroblastoma. Sementara pada anak yang lebih besar, massa rongga perut umumnya berhubungan dengan adanya leukemia dan limfoma yang disertai dengan perbesaran hati dan limpa.
Neuroblastoma berasal dari kelenjar adrenal (di perut) dan rantai ganglion simpatetis (ditemukan pada leher, dada, dan perut. Sel sel neuroblastoma berbentuk bulat, kecil dan berwarna biru. Baik dari sel tumor asal (primer) maupun sel anak sebar (metastasis)
Neuroblastoma dapat menyebar ke kelenjar limfa sekitar ataupun jauh, seperti pada tulang, hati, dan kulit. Berbeda dari tumor padat lain, neuroblastoma jarang bermestastasis ke paru. Penyebaran ke sumsung tulang juga dapat dijumpai meskipun jarang.
Untuk menegakan diagnosis tumor rongga perut, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang, seperti USG perut atau CT Scan perut dan rontgen dada.

Pemeriksaan penunjang pada rongga perut dapat ditemukan adanya suatu perkapuran (kalsifikasi) berwarna putih dari tumor yang merupakan ciri khas neuroblastoma, meskipun bukan sebagai faktor penentu diagnostik utama.Pemeriksaan Rontgen atau CT Scan dada dapat memperlihatkan adanya metastasis ke kelenjar limfa dan tumor di rongga dada.

Sel kanker neuroblastoma menghasilkan pemecahan hormon epinefrin yang tidak sempurna dan disebut dengan metabolit katekolamin. Pemeriksaan air kemih dilakukan untuk melihat adanya salah satu metabolit katekolamin yaituVinyl Mandelic Acid (VMA) sebagai penanda tumor dari neuroblastoma. Peningkatan kadar VMA dalam air kemih mengkonfirmasi diagnosis neuroblastoma pada 90% kasus dan memonitor aktivitas penyakit selama terapi.
Biopsi tumor dan biopsi sumsum tulang juga dapat dilakukan sebagai diagnosis neuroblastoma sekaligus melihat penyebaran neuroblastoma ke sumsum tulang.

Boks-1:
International Neuroblastoma Diagnostic Criteria (INDC) telah menetapkan kriteria diagnosis neuroblastoma apabila ditemukan : (1) Sel unequivocal dari jaringan tumor atau (2) Sel tumorunequivocal (misalnya sel syncitia ) dari pemeriksaan sumsum tulang, (3) Adanya peningkatan metabolit katekolamin yaituVinyl Mandelic Acid (VMA) pada air kemih.
Keterangan :
Unequivocal = tegas/jelas, Equivocal = tidak jelas/samar samar
Sel tumor unequivocal = sel tumor yang jelas
Sel Syncitia = sel multinukleus (sel dengan banyak inti) dari sitoplasma.

KEMUNGKINAN KESEMBUHAN
Pengobatan neuroblastoma bervariasi, bergantung pada lokasi, penyebaran, dan usia penderita. Bila kanker belum menyebar, akan diangkat dengan pembedahan. Bila kanker sudah menyebar dan berukuran besar, akan diberikan kemoterapi (obat anti-kanker vincristine, siklofosfamid, doksorubisin, dan cisplastin) atau terapi radiasi bila kemoterapi tidak efektif dan tindakan bedah tidak mungkin dilakukan. Perlu penanganan bersama dari tim dokter bedah anak, dokter kanker anak dan ahli radioterapi dalam pengobatan neuroblastoma.
Prognosis (kemungkinan sembuh) pasien neuroblastoma tergantung dari usia, stadium, dan lokasi tumor primer. Diagnosis pada usia anak yang lebih muda mempunyai prognosis yang lebih baik dan sebaliknya diagnosis pada usia lebih tua mempunyai prognosis lebih buruk. Sebagai contoh, pada anak usia 6 bulan dengan stadium II mempunyai nilai prognosis 95%, sementara pada anak usia 4 tahun dengan stadium yang sama mempunyai prognosis 40%.
Itulah mengapa, bila dijumpai adanya pembesaran perut pada anak, harus segera diperiksakan ke dokter. Bila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya benjolan dalam perut, maka kemungkinan adanya tumor padat ganas harus dipikirkan pada setiap anak. Melalui diagnosis dan terapi dini akan dicapai prognosis yang lebih baik.

Boks-2:
STADIUM PENYAKIT
Stadium penyakit dan usia terdiagnosisnya penyakit merupakan faktor prognosis yang penting pada pasien. Penentuan stadium neuroblastoma terutama memakai stadium klinis neuroblastoma internasional, International Neuroblastoma Staging System (INSS).

ID_NKTA2014MTH12ED818_BKlasifikasi stadium INSS adalah :
1.Stadium I: Tumor masih berada di organ aslinya, belum terdapat metastasis.
2.Stadium II: Tumor menyebar dari organ aslinya, tetapi tidak menyeberang dari garis tengah tubuh (metastasis ipsilateral)
oStadium IIA : Belum dijumpai keterlibatan kelenjar limfe sekitar
oStadium IIB : Sudah dijumpai keterlibatan kelenjar limfe sekitar
3.Stadium III: Tumor sudah menyeberang dari garis tengah tubuh (metastasis kontralateral).
4.Stadium IV: Tumor primer menyebar hingga kelenjar limfe jauh, tulang, sumsum tulang, hati, kulit atau organ lainnya menyebar jauh ke tulang.
5.Stadium IVS: Pasien dengan status stadium I atau II tetapi mempunyai penyebaran jauh ke satu atau lebih dari organ berikut: hati, sumsum tulang, dan kulit.

Telah terbit di Tabloid Nakita, 811. Bisa didapatkan di Scoop Magazine

 

Daftar Pustaka
•Brouder E. Armand, Brouder M. Garret, 1991, Abdominal Masses in Children: Neuroblastoma, Wilm’s Tumour and other consideration, Pediatr in Review; 12; 196—206
•D’angio G. Julio, 1984, Wilm’s Tumor and Neuroblastoma in Chlidren, Pediatr in Review; 6; 10—19
•Hastings Caroline M.D., 2002, Evaluation of the child with an Abdominal Mass in The Children’s Hospital Oakland: Hematology/ Oncology Handbook, Mosby Handbook; 124
•Hastings Caroline M.D., 2002, Neuroblastoma in The Children’s Hospital Oakland: Hematology/Oncology Handbook, Mosby Handbook; 187—90
•Mulatsih S., Farah D Vicka., “Neuroblastoma pada Anak Usia 7 Tahun”, Laporan Kasus, Sari Pediatri 2009;10(5):292—5