Dokter Anakku

Kapan Tes Penglihatan dan Pendengaran bagi si Kecil ?

mteBayi rentan mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan, sehingga dapat menyebabkan gangguan perkembangan sosial bila tidak tertangani dengan segera. Gangguan pendengaran dan penglihatan ini sulit terdeteksi karena melibatkan banyak hal. Identifikasi dan intervensi segera dengan program skrining akan mencegah konsekuensi tersebut Untuk mencegah terjadinya gangguan, ibu dapat melakukan tes pendengaran dan penglihatan agar tidak berdampak pada kemampuan bersosialisasi mereka di masa mendatang. Skrining untuk pendengaran bayi dapat dilakukan pada hari pertama usia bayi. Ingin tahu lebih jelas mengenai tes pendengaran dan penglihatan pada bayi? Simak penjelasan lengkapnya oleh dr.Vicka Farah Diba, Msc SpA pada Expert Talk kali ini.

1. Apa saja penyebab gangguan penglihatan dan pendengaran pada anak?
Penyebab gangguan penglihatan yang biasa terjadi pada anak adalah strabismus/juling, kelainan refraksi/rabun, dan ambliopia/mata malas.

Sementara itu, penyebab gangguan pendengaran yang biasa terjadi pada anak adalah infeksi telinga, masalah saat kehamilan atau saat kelahiran, penyakit atau cedera syaraf dan otak.

Penggunaan daftar indikator risiko tinggi direkomendasikan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya gangguan pendengaran kongenital maupun didapat pada neonatus :
• Riwayat keluarga gangguan pendengaran sensorineural permanen
• Anomali telinga dan kraniofasial
• Infeksi intrauterin berhubungan dengan gangguan pendengaran sensorineural (infeksi toksoplasmosis, rubella, sitomegalovirus, herpes, sifilis)
• Gambaran fisik atau stigmata lain yang berhubungan dengan sindrom yang diketahui berhubungan dengan gangguan pendengaran sensorineural, seperti sindrom Down, sindrom Wardenburg
• Berat lahir kurang dari 1500 gram
• Nilai Apgar yang rendah (0-3 pada menit kelima, 0-6 pada menit kesepuluh)
• Kondisi penyakit yang membutuhkan perawatan di NICU³ 48 jam
• Distres pernafasan (misalnya aspirasi mekoneum)
• Ventilasi mekanik selama 5 hari atau lebih
• Hiperbilirubinemia pada kadar yang memerlukan transfusi tukar
• Meningitis bakterial
Obat-obatan ototoksik (misalnya gentamisin) yang diberikan lebih dari 5 hari atau digunakan sebagai kombinasi dengan loop diuretic

2. Kapan sebaiknya anak melakukan tes penglihatan dan pendengaran? Apakah tes tesebut dipisah atau dapat dilakukan bersamaan?
Baik tes skrining gangguan penglihatan maupun pendengaran sudah dapat dimulai sejak bayi baru lahir dan dapat dilakukan pada waktu yang sama. The Joint Committee on Infant Hearing dan American Academy of Pediatrics merekomendasikan skrining pendengaran neonatus harus dilakukan sebelum usia 3 bulan dan intervensi telah diberikan sebelum usia 6 bulan. Untuk bayi yang lulus skrining, tetap harus dilakukan evaluasi berkala, yakni pada usia 6 bulan-1 tahun, usia 3-4 tahun, usia sekolah, ataupun setiap saat bila ada kecurigaan gangguan penglihatan atau pendengaran.

3. Apa ciri dan tanda anak perlu melakukan tes penglihatan dan pendengaran?
Orang tua dapat mencurigai ada gangguan penglihatan bila anak jarang menggerakkan mata, tidak memicingkan atau menutup mata saat terkena sinar yang cerah, kurang merespon wajah ibunya, atau kerap menyipitkan matanya di saat menatap atau melihat objek dari jarak dekat atau jarak jauh.
Sedangkan, gangguan pendengaran dicurigai bila anak pada usia 12 bulan belum dapat mengoceh, usia 18 bulan tidak dapat menyebut 1 kata berarti, usia 24 bulan memiliki perbendaharaan kata kurang dari 10 kata, dan usia 30 bulan belum dapat merangkai 2 kata.

4. Apa saja macam tes penglihatan dan pendengaran yang bisa dilakukan anak (bayi dan balita)?
Pada usia bayi, evaluasi penglihatan adalah dengan pemeriksaan red reflex, kedudukan dan pergerakan bola mata. Di atas usia tiga tahun, penilaian tajam penglihatan menggunakan chart huruf, angka, atau gambar tertentu sudah dapat dilakukan.

Sementara itu, tes pendengaran yang dapat dilakukan sejak masa neonatus adalah pemeriksaan Otoacoustic Emission (OAE), pemeriksaan Auditory Brainstem Response (ABR). 

Pemeriksaan elektrofisiologi merupakan alat skrining yang direkomendasikan namun memerlukan alat khusus, biaya dan tenaga ahli, sehingga diperlukan kuesioner pendengaran (hearing checklist) sebagai alat skrining. Departemen Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan instrumen Tes Daya Dengar (TDD) dan Tes Daya Lihat (TDL) sebagai alat pra-skrining gangguan pendengaran dan penglihatan anak yang dapat dikerjakan dengan mudah di Puskesmas, PAUD, TK oleh tenaga kesehatan, guru TK maupun petugas PAUD terlatih.

Tes daya lihat (TDL) ; Tujuan untuk mendeteksi secara dini kelainan dapat dilihat agar segera dapat dilakukan tindakan lanjutan sehingga kesempatan untuk memperoleh ketajaman daya lihat menjadi lebih besar. Mulai dilakukan sejak usia tahun, diulang setiap 6 bulan

Tes daya dengar (TDD), Tujuan untuk menemukan gangguan pendengaran sejak dini, agar dapat segera ditindak lanjuti untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak. Mulai dilakukan di usia 3 bulan, dilakukan setiap 3 bulan pada bayi kurang dari 12 bulan dan setiap 6 bulan pada anak usia 12 bulan ke atas.

5. Bagaimana mengatasi masalah penglihatan dan pendengaran pada anak?
Penanganan gangguan penglihatan bergantung pada kondisi penglihatan mata anak, mulai dari koreksi kacamata, terapi oklusi atau patching, hingga operasi untuk mengembalikan kedudukan bola mata seperti pada mata juling.

Setelah diketahui seorang anak menderita ketulian, upaya habilitasi pendengaran harus dilakukan sedini mungkin, karena usia kritis proses berbicara dan mendengar adalah sekitar 2-3 tahun. Bila terdapat tuli sensorineural derajat sedang atau berat, maka harus dipasang alat bantu dengar sedini mungkin seperti yang direkomendasikan oleh American Joint Committee on Infant Hearing yaitu sebelum usia 6 bulan. Bila dengan ABD tidak membantu, maka dianjurkan untuk menggunakan implan koklea. Proses habilitasi pasien tuli membutuhkan kerja sama dari beberapa disiplin, antara lain dokter spesialis THT, dokter spesialis anak, audiologist, ahli terapi wicara, psikolog anak, guru khusus untuk tunarungu dan keluarga pasien. Di samping itu, anak juga diberi terapi wicara atau terapi audio-verbal sehingga selanjutnya dapat berkomunikasi.

6. Apakah tes penglihatan dan pendengaran bisa dilakukan sendiri di rumah oleh ibu? Bila iya, jenis tes yang seperti apa yang bisa dilakukan?
Ya. Orang tua memegang peran yang sangat penting dalam deteksi dini. Orang tua sebaiknya ’jeli’ menangkap bayi/anak kurang memberikan reaksi terhadap objek, orang-orang, gambar, mainan, boneka, suara di sekitarnya dan segera datang ke dokter atau klinik guna evaluasi pendengaran, tanpa menunggu usia anak lebih besar.

7. Jika balita susah bergaul dengan lingkungan sosialnya apakah ia berarti mengalami gangguan sosial? Lalu apakah perlu dilakukan tes penglihatan dan pendengaran?
Ya. Gangguan dalam komunikasi verbal, non-verbal, dan interaksi sosial dapat disebabkan oleh gangguan perkembangan anak atau kondisi penyakit anak. Tes penglihatan, tes pendengaran, dan beberapa tes lain dapat dilakukan untuk menentukan apakah gangguan penglihatan, pendengaran, atau gangguan medis lainnya menjadi penyebab gangguan sosial anak, dan bukan gangguan perkembangan anak itu sendiri.

8. Bagaimana tips melatih penglihatan dan pendengaran anak?
Stimulasi dini dapat dilakukan setiap hari sejak bayi baru lahir (bahkan sejak janin berusia 6 bulan di dalam kandungan). Meskipun sistem penglihatannya belum berkembang sempurna, bayi dapat melihat cukup baik pada jarak tertentu, terutama jarak dari hidung si kecil ke puting ibunya. Untuk merangsangnya, bisa dengan memberikan beberapa pola atau benda yang menarik, seperti bermain wajah, bermain dengan kaca atau memperlihatkan mainan yang lucu dan menarik perhatiannya.

Stimulasi Penglihatan Bayi :
• Menarik perhatian bayi dengan mendekatkan wajah ibu
• Pertahankan kontak mata yang lama
• Ubah ekspresi wajah untuk mempertahankan interaksi visual, menggunakan senyuman,
• ekspresi kaget, gerakan lidah
• Gerakan kepala, ajak bayi anda untuk mengikuti gerakan kepala
• Gerakan, anggukan dan gelengkan kepala untuk mempertahankan interaksi
• Tirukan ekspresi wajah bayi
• Gerakan benda berwarna terang untuk membantu pemfokusan bayi dan mengikutinya
• Pegang bayi posisi tegak sehingga ia dapat melihat melampauai bahu orangtua
• Atur kursi bayi sehingga ia dapat melihat ke orangtua

Selama trimester terakhir kehamilan, bayi sudah bisa mendengarkan suara ibunya. Indera pendengaran ini sudah bisa dirangsang sejak bayi dilahirkan melalui suara-suara lembut, kotak musik, mendengarkan seseorang bernyanyi atau mengajaknya berbicara.
Stimulasi Pendengaran Bayi :
• Gunakan suara anda untuk berbagai cara berkomunikasi dengan bayi (bernyanyi, bergumam, berkotek, memanggil nama, bercakap)
• Berusaha agar bayi menggerakkan matanya dan kepalanya kearah suara anda
• Tiru suara bayi
• Gunakan benda untuk menimbulkan suara (bel, musik)
• Membungkus, menggendong, mengatur posisi

mte7KESIMPULAN :

  • Skrining gangguan penglihatan maupun pendengaran sudah dapat dimulai sejak bayi baru lahir dan dapat dilakukan pada waktu yang sama.
  • Pada usia bayi, evaluasi penglihatan adalah dengan pemeriksaan red reflex, kedudukan dan pergerakan bola mata. Di atas usia tiga tahun, penilaian tajam penglihatan menggunakan chart huruf, angka, atau gambar tertentu sudah dapat dilakukan. Sementara itu, tes pendengaran yang dapat dilakukan sejak masa neonatus adalah Otoacoustic emissions (OAE) dan/atau automated auditory brainstem response (AABR)
  • The Joint Committee on Infant Hearing dan American Academy of Pediatrics merekomendasikan skrining pendengaran neonatus dilakukan sebelum usia 3 bulan dan intervensi dappat diberikan sebelum usia 6 bulan.
  • Departemen Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan instrumen Tes Daya Dengar (TDD) dan Tes Daya Lihat (TDL) sebagai alat pra-skrining gangguan pendengaran dan penglihatan anak yang dapat dikerjakan dengan mudah di Puskesmas, PAUD dan TK.

REFERENSI :
1. American Academy of Pediatrics. Eye Examination in Infants, Children, and Young Adults by Pediatricians. Pediatrics. 2003; 111: 902-907.
2. Centers for Disease Control and Prevention. Hearing Loss in Children [Internet]. 2015 [cited September 27, 2015]. Available from: http://www.cdc.gov/ncbddd/hearingloss/recommendations.html.
3. Darusman KR. Pemeriksaan Mata untuk Si Buah Hati. Betterhealth [Internet]. 2012 [cited September 27, 2015]: 24-25. Available from: https://kiantidarusman.files.wordpress.com/2012/01/024-025_eye-skrining_rev.pdf.
4. Kusioner Pra Skrining Perkembangan Anak, Depkes RI, Jakarta
5. National Deaf Children’s Society. Newborn hearing screening [Internet]. 2015 [cited September 27, 2015]. Available from: http://www.ndcs.org.uk/family_support/audiology/newborn_hearing_screening/.
6. Rundjan L, Amir I, dkk. Skrining Gangguan Pendengaran pada Neonatus Risiko Tinggi, Sari Pediatri,2005 : 6(4) : 149-154
7. Soedjatmiko. Pentingnya Stimulasi Dini untuk Merangsang Perkembangan Bayi dan Balita Terutama pada Bayi Risiko Tinggi,Sari Pediatri, 2006 : 8(3) : 164-173