Dokter Anakku

MAMA, SUDAHKAH SI KECIL DIIMUNISASI?

Kalau memang dapat mengurangi kejadian sakit, cacat, bahkan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, mengapa tidak? Berikut pengalaman Ibu-ibu mengenai Imunisasi yang dapat menambah keyakinan Bunda pada Manfaat Imunisasi 

“Saya selalu mengimunisasikan si kecil agar ia tidak mudah sakit dan mempunyai daya tahan tubuh kuat. Jadi, saya enggak khawatir kalau anak main di luar dan jajan di luar, meski tetap memberi jajanan sehat. Alhamdullilah, kedua anak saya sehat walau badannya—orang bilang—kurus, tapi daya tahan tubuhnya kuat. Flu dikit juga cepet sembuh,” cerita Zallykha Fahamzah, Senior Purchasing (34), mama dari Siti Zhavira Alkha (8) dan Sitin Yasmin Alkha (5)

Begitu pula dengan Ratna Sari Utami, Karyawan Swasta (35). Imunisasi, diakuinya, telah mengurangi kekhawatirannya sebagai ibu terhadap penyakit yang dapat menyerang anak. “Imunisasi sangat bermanfaat buat anak, karena Imunisasi memberi kekebalan tubuh pada anak saya. Kedua anak saya sudah diberikan imunisasi wajib sejak lahir sesuai program pemerintah dan imunisasi tambahan sesuai anjuran IDAI. Alhamdulillah, mereka semua tumbuh baik dan sehat,” papar mama dari Sahrovy Aditya Pratama (9) dan Nur Kustianti Adiva Sri Devi (6,5) ini.

Sementara Putri Octa Isabella W, Mining Engineer (27) sempat ragu dengan Imunisasi lantaran isu tak halal. “Risiko pekerjaan membuat kami bertugas di daerah terpencil sehingga ketersediaan vaksin juga sulit. Pada suatu saat, vaksin yang tersedia hanya vaksin yang mengandung enzim babi dalam proses pengolahannya. Debat panjang dengan suami menyebabkan pemberian imunisasi untuk anak kami jadi tertunda,” ungkapnya. Setelah mendapat klarifikasi dari dokter, akhirnya Putri dan suami yakin untuk memberi imunisasi sesuai jadwal. “Alhamdullilah, tidak ada masalah pada perkembangan dan pertumbuhan anak kami.” Mama dari Renata Zivanna P (14 bulan) ini berpendapat, imunisasi memang diperlukan. Ia lantas mencontohkan musibah yang baru saja dialami anak dari rekan kerjanya kerena tidak diberi imunisasi sejak lahir, sehingga sang anak tidak memiliki kekebalan tubuh melawan penyakit. “Oleh karena itu, saya tetap memilih memberikan imunisasi kepada anak saya!” tegasnya.

CAKUPAN IMUNISASI RENDAH, KEJADIAN SAKIT MENINGKAT
Tahukah, Mama Papa? Setiap tahun diperkirakan 2—3 juta anak meninggal dunia karena berbagai penyakit yang sesungguhnya dapat dicegah dengan imunisasi. Sampai dengan tahun 2016, program nasional imunisasi dasar lengkap yang ada di Indonesia telah berhasil melindungi jutaan generasi bangsa dari delapan Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), yaitu polio, TBC, campak, difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, hepatitis B dan pneumonia, serta meningitis.
Mama Papa mungkin masih ingat dengan beberapa kejadian luar biasa (KLB) penyakit yang seharusnya bisa dicegah oleh imunisasi. Salah satunya, KLB difteri tahun 2015. Berdasarkan info dari Pusdatin (Pusat Data dan Informasi) Kementerian Kesehatan RI tentang “Situasi Imunisasi di Indonesia Tahun 2007—2015”, ternyata 37% penderita difteri belum mendapatkan imunisasi DPT-3. Begitu pun dengan kasus campak (2015), dari 8.185 kasus, sebanyak 54% di antaranya belum mendapatkan vaksinasi campak. Padahal, selama periode 2007—2012 kasus campak justru cenderung menurun. Mengapa? Karena pada periode tersebut terjadi peningkatan cakupan imunisasi campak, sementara pada 2013—2015, cakupannya justru menurun. Jadi, semakin tinggi cakupan imunisasi, semakin rendah kejadian kasusnya. Sebaliknya, penurunan cakupan imunisasi berpeluang meningkatkan kejadian sakit.
Pendeknya, Ma, Pa, bila terjadi KLB dari suatu penyakit yang seharusnya dapat dicegah oleh imunisasi, bisa dipastikan pada daerah tersebut masih rendah cakupan imunisasinya. Tak dapat disangkal lagi, ya, Ma, imunisasi merupakan salah satu investasi kesehatan yang paling murah karena terbukti dapat mengurangi kejadian sakit, cacat, dan bahkan kematian akibat P3DI. Nah, tunggu apa lagi? Ayo, Ma, dicek jadwal imunisasi si buah hati. Jangan pernah ragu membawa anak-anak kita imunisasi agar mereka tumbuh sehat dan kuat, ya, Ma. *

TAMBAH TIGA VAKSIN BARU
Mengingat pentingnya imunisasi dalam menekan angka kesakitan dan kematian anak, maka mulai 2017, pemerintah menambah 3 vaksin baru, yaitu Measles dan Rubella (MR), Japanese Encephalitis (JE), dan Pnemokukus ke dalam program imunisasi dasar. Menurut Menkes, imunisasi MR diberikan untuk melindungi anak Indonesia dari penyakit kelainan bawaan, seperti gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kelainan jantung, dan retardasi mental yang disebabkan adanya infeksi Rubella pada saat kehamilan. Vaksin MR direncanakan akan menggantikan vaksin campak yang selama ini dipakai. Vaksin MR diberikan pada anak umur 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat. Sedangkan imunisasi JE diberikan untuk melindungi anak dari penyakit radang otak akibat infeksi virus Japanese Ensefalitis. Sasaran imunisasi JE adalah bayi usia 9 bulan. Sementara imunisasi pneumokokus diberikan untuk melindungi anak-anak dari radang paru karena infeksi bakteri pneumokokus. Vaksin pnemokukus diberikan pada bayi usia 2, 3 dan 12 bulan. *

KAMPANYE IMUNISASI MEASLES RUBELLA (MR)
Kampanye imunisasi MR adalah suatu kegiatan imunisasi secara massal pada Agustus dan September sebagai upaya memutus transmisi penularan virus campak dan rubela pada anak usia 9 bulan sampai dengan anak usia kurang dari 15 tahun. Selama kampanye imunisasi MR (Agustus—September 2017), diberikan imunisasi MR untuk semua anak usia 9 bulan sampai dengan usia kurang dari 15 tahun tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Mohon ingat baik-baik jadwalnya berikut ini, ya, Ma!
• Bulan Agustus: Imunisasi MR diberikan untuk anak usia sekolah 7 tahun sampai dengan kurang dari 15 tahun yang dilaksanakan di PAUD, TK/RA, SD/MI/sederajat, SMP/MTS/sederajat.
• Bulan September: Imunisasi MR diberikan untuk bayi usia 9 bulan sampai dengan anak anak usia kurang dari 7 tahun yang dilaksanakan di Posyandu, Puskesmas, dan sarana pelayanan kesehatan lainnya. *

Penulis:
dr. Vicka Farah Diba, MSc., SpA
RS Condong Catur Yogyakarta
Asri Medical Centre Yogyakarta
Telah Terbit di Tabloid Nakita ed 950