Dokter Anakku

Kisah Putri Hijau

20 Cerita Asyik Pembangun Karakter Anak Muslim

20 Cerita Asyik Pembangun Karakter Anak Muslim

Kisah Putri Hijau
Cerita Rakyat Sumatera Utara
Oleh Vicka Farah Diba

Negeri Deli mempunyai perbatasan dari Teluk Aru hingga sekitar Sungai Rokan. Ibu kota Kerajaan Deli berada di tepi pantai Selat Malaka yang sangat strategis sebagai jalur perdagangan. Kerajaan ini dipimpin oleh Sultan Sulaiman yang mempunyai tiga orang anak. Si sulung bernama Mambang Jazid, anak tengah bernama Putri Hijau dan si bungsu bernama Mambang Khayali

Satu-satunya anak perempuan Sultan Sulaiman, berwajah cantik jelita. Ia sangat menyukai warna hijau sehingga selalu memakai baju berwarna hijau. Bila terkena cahaya, baju yang dikenakannya memantulkan warna hijau berkilau, seakan akan dari tubuh Putri memancarkan warna kehijauan. Itulah sebabnya orang orang mengenalnya dengan nama Putri Hijau.

Ketiga bersaudara itu sangat menyayangi Ayahanda Sultan Sulaiman. Namun seperti mendiang Ibunda mereka, Sultan Sulaiman tak berumur panjang. Sultan Sulaiman meninggal karena sakit dan tak sempat melihat ketiga anaknya tumbuh dewasa. Mereka bertiga kemudian diasuh oleh Sultan Hidayat, adik satu satunya Sultan Sulaiman. Berbeda dengan Sultan Sulaiman, Sultan Hidayat terkenal licik dan tamak.

Meninggalnya Sultan Sulaiman menyebabkan si sulung Mambang Jazid yang baru berusia 14 tahun itu harus memegang tampuk Kerajaan Deli sebagai Sultan Muda. Rencana licik pun telah tersusun di kepala Sultan Hidayat, ia berpikir Mambang Jazid yang masih muda, mudah diperdaya hingga bisa membuatnya lebih memperkaya diri. Dengan dalih memberi bimbingan, Sultan Hidayat ikut mendampingi Sultan Muda mengadakan pertemuan pertamanya bersama Hulubalang kerajaan untuk membahas berbagai masalah di Negeri Deli. Turut hadir dalam pertemuan tersebut, kedua adik Sultan Muda yang juga mendampingi kakak sulung mereka.

Sultan Muda Mambang Jazid tampak prihatin dengan keadaan nelayan yang sulit mencari ikan karena kapal mereka sudah terlalu tua. Terjangan ombak dan angin tak mampu dihadang oleh kapal kapal kecil mereka. Melihat adanya celah untuk mendapat keuntungan, Sultan Hidayat lalu memberi usulan pada Sultan Muda “Sultan Muda. Bagaimana bila para Nelayan kita bantu dengan kapal kapal baru”
“Nelayan dapat membeli kapal kapal baru dengan harga murah dari Paman. Kebetulan Paman punya banyak kapal penangkap ikan yang masih bagus bagus ” jelas Sultan Hidayat
“Usulan yang bagus Paman” jawab Sultan Muda “Nelayan memang sangat membutuhkan kapal baru agar dapat bekerja dengan baik”
“Hamba merasa tersanjung, karena Sultan Muda menyetujui usulan Paman” kekeh Sultan Hidayat.
“Namun, karena Paman adalah bagian dari keluarga Sultan pengayom rakyat. Maka para nelayan tak perlu membayar apapun kepada Paman” sambung Sultan Muda “Para nelayan akan mendapat kapal baru dari Sultan Hidayat sebagai hadiah” putusnya kemudian
Sultan Hidayat pun terbelalak, belum sempat menjawab putusan itu, Hulubalang kerajaan beserta kedua adik Sultan Muda telah bertepuk tangan riuh serta mengucapkan terimakasih kepadanya.
“Paman Hidayat baik sekali” ujar Putri Hijau ”Para nelayan pasti sangat terbantu dengan kapal kapal baru hadiah dari Paman”
“Tunggu sebentar” Sultan Hidayat mencoba meluruskan “Maksud Sultan Muda, Paman harus memberikan sebagian kapal pada para nelayan?”
“Tentunya sangat tidak pantas bila keluarga Sultan yang hidup di istana dan perutnya tak pernah lapar mengambil uang dari para nelayan yang sudah berhari hari tak bisa mencari makan bukan?” jawab Sutan Muda sambil tersenyum ramah
Sultan Hidayat tak mampu berkata lagi “Baiklah Sultan Muda, hamba tunduk perintah Sultan Muda” jawabnya dengan muka merah padam
Hulubalang kerajaan dan kedua adik Sultan Muda berusaha keras menahan tawa melihat wajah Sultan Hidayat. Mereka sangat bangga pada Sultan Muda yang cerdas dan baik hati. Nampaknya kearifan dan kasih sayang Sultan Sulaiman pada rakyatnya telah menjadi panutan bagi Sultan Muda.

Tak terasa sudah hampir setahun Sultan Muda Mambang Jazid memimpin Kerajaan Deli. Di penghujung tahun, Kerajaan Deli biasanya mengadakan pesta dan perjamuan besar dengan mengundang kerajaan tetangga untuk bertamu ke Negeri mereka. Perjamuan itu dimaksudkan untuk meningkatkan kerjasama perdagangan antar kerajaan. Selain menikmati hiburan, para tetamu juga disuguhi berbagai hidangan hasil kekayaan alam Negeri Deli. Namun sayang, di penghujung tahun ini musim paceklik dan kekeringan sedang melanda Negeri Deli. Jangankan menghasilkan panen untuk perjamuan besar, para petani dan nelayan bahkan hampir tak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri. Hal ini tentunya membuat Sultan Muda merasa gundah, ia tak ingin Kerajaan mendapat malu. Sultan Hidayat yang licik masih tak putus asa mendapat keuntungan dari setiap kesempatan. Melihat kegundahan Sultan Muda ia kembali mengusulkan jalan keluar.
“Sultan Muda tak usah merasa gundah. Kita masih bisa menggunakan pundi pundi pajak untuk mengadakan jamuan makan dengan kerjaaan tetangga” sarannya
“Kita tak mungkin melakukan itu Paman” jawab Sultan Muda “Pundi pundi pajak, pada prinsipnya adalah tabungan milik rakyat. Digunakan untuk rakyat ketika masa sulit datang, seperti musim paceklik saat ini bukan untuk pesta kerajaan” jelasnya
Sultan Hidayat nampak sudah siap dengan jawaban “Benar sekali Sultan Muda. Namun rakyat juga bagian dari Kerajaan bukan? Kapan lagi mereka memberikan sumbangan untuk Negeri Deli?”
“Tujuan diadakan perjamuan dengan kerajaan tetangga oleh mendiang Ayahandamu, tak lain adalah untuk kepentingan rakyat” ingat Sultan Hidayat “Peningkatan hubungan perdagangan antar kerajaan, akan membawa lebih banyak manfaat untuk rakyat”
Sejenak Sultan Muda terdiam memikirkan usulan Pamannya. Sultan Hidayat tersenyum puas, ia nampak senang telah berhasil meyakinkan kemenakannya. Ia yakin usahanya memperdaya Sultan Muda akan berhasil.
“Kakanda Sultan Muda tak usah ragu” ujar Putri Hijau yang mendengarkan diskusi mereka “Gunakanlah pundi pundi pajak untuk membantu nelayan dan petani yang sedang mengalami masa paceklik saja”
“Hamba dan Adinda Mambang Jazid akan berangkat menjual hasil tenunan baju kepada para Raja dan keluarganya untuk membantu Kerajaan Deli” sambung Putri Hijau
“Menjual hasil tenunan baju?” tanya Sultan Hidayat tak mengerti
“Benar Paman. Baju yang dipakai oleh Kakanda Putri Hijau adalah hasil tenunannya sendiri. Kakanda Putri memang sangat pandai menenun. Kain hasil tenunannya halus dan indah hingga berkilau memantulkan cahaya” jelas Mambang Jazid si bungsu.
Sultan Muda tersenyum lebar “Baiklah. Aku mengijinkan kalian pergi. Berangkatlah bersama pengawal kerajaan dan jangan lupa untuk pulang sebelum masa Perayaan tiba” perintah Sultan Muda
Sultan Hidayat gigit jari lagi. Ia kemudian pergi dengan muka merah padam karena rencananya untuk memperdaya Sultan Muda tak berhasil.
“Terimakasih atas bantuan kalian” ujar Sultan Muda kepada kedua adiknya “Sungguh tak mudah menjadi seorang pemimpin”
“Kami yakin Kakanda Sultan Muda mampu menjadi pemimpin yang dapat dipercaya rakyat” ujar si Bungsu Mambang Jazid sebelum berangkat bersama Putri Hijau

Para keluarga Raja sangat tertarik dengan hasil tenunan Putri Hijau, mereka kini mengerti mengapa Putri Hijau yang cantik selalu tampak memancarkan cahaya hijau kemilau. Perayaan akhir tahun pun berjalan lebih meriah dari tahun sebelumnya, tetamu kerajaan datang dari Aceh, Malaka, hingga bagian utara pulau Jawa. Mereka datang ke Negeri Deli untuk melihat hasil tenunan Putri Hijau yang tersohor dan telah berhasil menyelamatkan kerajaannya itu. 

Moral Cerita :
Jadilah pemimpin yang amanah
Tamak adalah sifat tak terpuji
Asah ketrampilan yang berguna

Baca cerita menarik karya dr Vicka Farah Diba lainnya di Buku “20 Cerita Asyik Pembangun Karakter Anak Muslim” penerbit Al Kautsar